oleh

Tentang Ekonomi Dan Kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung

babel fair, ekonomi bangka belitung
Babel Fair 
Ekonomi Dan Kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung
Telah dijelaskan pada artikel terdahulu bahwa kepulauan Bangka Belitung merupakan sebuah wilayah yang boleh dibilang majemuk. Sebab terdiri dari segmen wilayah, mulai daratan, sungai, perbukitan dan pegunungan. Di mana kesemuanya itu penyumbang terbesar pada pertumbuhan di daerah tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Bangka Belitung dinyatakan semakin membaik sejak tahun 2007 lalu, bila dibandingkan dengan 2006. Hal ini dikutip dari laman situs www.wikipedia.com yang menerangkan bahwa dasar perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi dengan migas tahun 2007 mencapai 4.54% dan yang tanpa migas 5.37%. Di tahun 2006 laju pertumbuhan ekonomi dengan migas sebesar 9.053.906 juta rupiah. Pada tahun 2007 meningkat jadi 9.645.062 juta rupiah, sedang yang non migas 9.257.539 juta rupiah.
Struktur Perekonomian
Struktur perekonomian Kepulauan Bangka Belitung didukung oleh dua faktor yakni sektor primer, sekunder dan terseier. Sektor primer kontribusinya cukup besar masing-masing 18.67% dan 20.40%. Sementara sector sekunder ialah sektor industri sebesar 22.51%, sedang sektor listrik, gas dan air bersih juga bangunan, masing-masing menyumbang 0.65% dan 5.87%. Pada sektor tersier yaitu perdagangan, restoran dan hotel, angkutan, komunikasi, keuangan, persewaan serta jasa perusahaan sebesar 34.81%.
Tentang Kebudayaannya
Sama seperti tempat lain di seluruh Nusantara, Kepulauan Bangka Belitung juga memiliki kebudayaan dan adat istiadat tersendiri yang tidak akan pernah sama seperti di tempat lain. Di mana hal tersebut meliputi :
Rumah Panggung
Arsiteknya masih dipengaruhi budaya Melayu seperti yang sering ditemukan di daratan Sumatra dan Malaka. Yang paling kentara dari tempat ini adalah mengenai jumlah tiang penyangga rumah, yang meyakini falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas rumah itu yang berjumlah 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup daun rumbia dan dinding dari pelepah kulit kayu/bambu.
Ada 3 tipe rumah jenis ini antara lain :
          Arsitek Melayu Awal
Ciri khasnya : Terdiri dari rumah ibu, dan rumah dapur di atas tiang rumah yang ditanam di di dalam tanah. Beratap tinggi dan sebagian miring, beranda di muka, banyak fentilasi.
          Melayu Bubung Panjang
Cirinya : Penambahan bangungan di sisi bangunan yang ada sebelumnya.
          Melayu Bubung Limas
Cirinya : Dipengaruhi daerah Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitek terpancung. Juga ada pengaruh dari arsitek non- Melayu dari Tionghoa.
Selain rumah adat, ada atraksi budaya seperti : Perang Ketupat, Buang Jong, Mandi Belimau, Ruwah dan masih banyak lagi. Kain tradisionalnya bernama kain Cual. Senjatanya yang paling terkenal : Parang Bangka, Kedik, dan Siwar Panjang.  Alat musiknya : Dambus, Suling, Gendang Melayu, Tari Tanggal, Tari Zapin, Tari Campak dan lain-lain.
Sedangkan untuk masakan atau kulinernya cukup beragam, antara lain :
Lempah Kuning : Terbuat dari bahan dasar ikan dan terigu, dibumbui dan diberi kunyit lengkuas
Rusip : Ikan bilis disterilkan dicampur garam gula, disimpan sampai matang tanpa pemanasan. Dulu memakai guci yang tertutup rapat dengan suhu ruang.
Calok : Udang rebon dicuci bersih dicampur garam.
Teritip : Ikan kecil yang hidup di pantai melekat di bebatuan laut. Dagingnya kecil tapi tekstur dan rasanya mirip tiram. Diawetkan dengan diasinkan atau dimakan segar.

Dan masih banyak lagi kuliner lezat lainnya. (Dilansir dari id.wikipedia.org)

Artikel Terkait 

Beberapa Usaha UMKM yang Menjanjikan dan Menguntungkan



Komentar

News Feed